Industri game tak sependapat dan mengimbau kajian ulang. 

Organisasi kesehatan dunia, WHO, resmi memasukkan Gaming Disorder alias kecanduan game ke dalam jenis penyakit. Keputusan mendapat persetujuan dari anggota WHO yang hadir dalam ajang World Health Assembly ke-72 di Jenewa, Swiss, pada 25 Mei lalu. 

Penyakit ini dicirikan dengan kecanduan game yang menyebabkan penurunan kualitas relasi dengan diri sendiri, keluarga, masyarakat, pendidikan, pekerjaan, atau ranah penting lainnya. 

WHO mendifiniskan kelainan dalam tiga aspek yakni gangguan kendali atas kegiatan game, penempatan prioritas game di atas kegiatan lain dan kehidupan sehari-hari, serta meneruskan bermain game kendati muncul dampak negatif.

Gaming Disorder pertama kali diusulkan sebagai perilaku kecanduan pada Desember 2017. Finalisasi Gaming Disorder menjadi penyakit tak disambut baik oleh perwakilan industri game dari Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Brasil.

“WHO adalah organisasi yang terhormat dan panduan harus didasarkan pada tinjauan reguler, inklusif, dan transparan yang didukung oleh para ahli independen. Gaming Disorder tidak didasarkan pada bukti yang cukup kuat untuk membenarkan pencantuman dalam salah satu alat penetapan norma WHO yang paling penting,” demikian pernyataan yang dibuat bersama oleh sejumlah organisasi seperti Entertainment Software Association, The Association for UK Interactive Entertainment (UKIE), dan Interactive Software Federation of Europe (ISFE).