Sangat aneh bahwa Jepang sering tidak dianggap sebagai negara adidaya esports, meskipun terkenal dengan budaya video game-nya. Namun perlahan anggapan tersebut kini sudah mulai berubah.

Berdasarkan laporan Japan TImes, melalui sebuah survey yang dilakukan di Jepang, dari 2.000 responden yang ditanyai ada sebanyak 43% individu yang mengatakan bahwa esports memiliki daya tarik dan percaya bahwa hal tersebut akan sangat populer di Negeri Sakura itu.

Jumlah ini jauh meningkat dari hasil survey di Jepang pada 2018, di mana hanya ada 7,4% orang yang menyuarakan hal serupa saat itu.

Peningkatan ini tidak lepas dari usaha para penggiat esports dan pemangku kepentingan di Jepang, termasuk pembentukan Japan Esports Union (JESU) yang telah melakukan berbagai kegiatan.

Credit: Japan Esports Union

Uniknya, sebagian besar orang yang berpikir bahwa esports akan menjadi besar di Jepang berasal dari golongan usia di atas 30 tahun, yaitu sebesar 60,8%. Bahkan 40% dari mereka telah berusia 40-60 tahun. Sementara dari golongan anak muda berusia 18-29 tahun sebesar 58,1%.

Namun, masih ada pihak yang menentang bahwa mengoperasikan mesin atau konsol bukanlah bentuk dari kegiatan olahraga, yaitu sebesar 65,7%. Lebih dari 30% juga merasa bahwa esports tidak akan berkontribusi pada kebugaran atau kesejahteraan seseorang dan tidak baik bagi pendidikan. Mereka juga tidak ingin esportsmenjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Namun, Jepang berada di jalur yang tepat untuk menjadikan esports sebagai agenda penting. Di luar kegiatan JESU, akan ada event National Sports Festival di Ibaraki, Tokyo, pada Oktober 2019 mendatang.