Bukan rahasia lagi jika scene esports Indonesia sekarang sangat berkembang. Namun, ada satu masalah laiknya lintah di sana, TOXIC!

Pengikut esports di Indonesia sangat banyak. Terutama untuk game-game esports yang memang unggul macam Mobile Legends: Bang Bang, Free Fire, sampai PUBGM.

Namun, selayaknya game, pengikut pun kebanyakan anak-anak sampai remaja. Ada juga yang sudah dewasa, tapi perbandingannya tak setara dengan orang-orang yang kerap muncul di kolom komentar dengan nada tidak enak.

Toxicnya netizen sedikit banyak punya pengaruh kepada sosok yang diserang. Di sini kebanyakan adalah para pro player.



Performance Psychologist yang sempat bekerja di scene esports, Listiyani Siegit, mengakui bahwa toxic adalah hal yang paling mengejutkan di scene esports Indonesia. Eksklusif kepada ONE Esports, dia mengungkapkannya.

“Hal yang membuat saya kaget di dunia esports adalah netizen. Saya sudah mendengar banyak dari orang yang main game ini sebelumnya, mereka berhenti main satu game tertentu karena toxic banget netizennya,” jelasnya.

“Saya tidak paham, sampai masuk sendiri ke dunia ini. Saya melihat anak-anak, komentarnya juga, wow ini toxic banget. Netizen Indonesia, tanpa maksud mendiskreditkan, yang dimaksud toxic itu apa sih? Karena kita harus mendefinisikannya dulu ya toxic itu apa sih?”

“Kata-kata yang menyakiti seseorang, pernyataan yang merendahkan seseorang, dan memberikan statement tidak benar seperti menuduh. Banyak sekali hal-hal seperti itu di lingkungan esports di Indonesia yang saya tahu. Bagaimana itu memengaruhi mereka?”

“Anak-anak ini kan ada di tahap perkembangan, jadi sebenarnya mereka ada tahap-tahap yang harus dilewati. Tapi hal ini membuat mereka dipaksa belajar cepat, seperti orang kejar paket. Harus bisa semua karena kamu harus berhadapan dengan ini itu, jika tak siap akan begini.”

Fans MLBB MPL Season 4

“Tetapi secara mental dan perkembangan manusia anak mereka masih dalam tahap belajar untuk itu. Ketika mereka harus siap saat ini juga, menjadi tanda tanya. Mungkin ada yang siap, tapi ada juga yang tertatih dalam perjalanannya,” paparnya panjang lebar.

Ya, Toxic dari fans berdampak buruk pada pemain. Tak semua player punya sikap dewasa yang bisa dengan dewasa juga menanggapinya. Ada yang masih sangat muda dan bisa sakit hati karena hal tersebut.

So, bagi teman-teman, mari kita dukung atlet esports Indonesia dengan cara yang baik. Jika ingin mengeritik pun harus dengan kalimat yang terpuji tanpa memojokkan.

BACA JUGA: M2 jadi turnamen terakhir EVOS SG di scene profesional