Ada satu hal negatif yang menjadi kebiasaan para gamer bahkan para profesional sekalipun, yakni memaki dan mengeluarkan kata-kata kotor ketika bermain. Sesuatu yang tidak berlaku bagi Lee “Faker” Sang-hyeok.

Faker adalah salah satu pilar terpenting tim League of Legends ternama Korea Selatan, SK Telecom T1. Hanya membela satu tim sepanjang karier pro gamingnya sejak 2013, prestasi Faker sudah sangat banyak.

Mid-laner satu ini berhasil lima kali menjadi juara League of Legends Champions Korea Spring, dua kali League of Legends Champions Korea Summer, dan tiga kali menjadi juara dunia League of Legends tentunya di LoL World Championship.

Faker juga sempat menjadi andalan timnas Korea dalam Asian Games 2018 lalu cabang esports LoL dan meraih medali perak. Terakhir dia berhasil membawa SK Telecom T1 juara di Rift Rivals Asia 2019.

Meski seorang gamer pro andal, Faker merupakan pribadi sederhana. Dia tak banyak berbicara bahkan mengaku tak merasa berjuang keras untuk mencapai level terbaik di game LoL.

Player berusia 23 tahun ini sadar dia sudah menjadi idola banyak orang. Ia pun memilih untuk memperlihatkan sikap yang terpuji di dalam atau luar arena permainan.

“Saya tak mengeluarkan banyak tenaga di League of Legends, tapi berhasil mencapai rank pertama. Saya pun merasa cocok menjadi gamer profesional. Saya juga tak gampang marah,” ujar Faker saat diwawancarai media Korea, The Chosun Ilbo dikutip Dot Esports.

“Semua orang bertanya bagaimana saya bisa mengatur mental dalam permainan ini? Saya menjawab ‘saya terlahir seperti ini’. Pada tes personalitas terakhir, mereka bahkan menganggap saya robot.”

“Banyak fans mencintai saya karena image Faker. Banyak anak-anak muda mencontoh saya, sehingga saya harus terlihat dewasa dan sopan. Jika saya melakukan hal yang buruk, mereka akan mengikutinya. Saya punya aturan untuk diri sendiri yaitu: bersikap rendah hati, jujur, bersikap baik, dan tak boleh memaki sama sekali (saat bermain),” jelas sosok berusia 23 tahun itu.