Mereka tak suka dengan perubahan yang dibuat pengembang dan berhenti memainkan gim.

Seseorang yang ada di Epic Games pasti mengernyitkan dahi.

Dua pemain Fortnite: Battle Royale dari Universitas Georgia, Jack Stuttard dan Ibrahim Diaz, mengkritisi pengembang atas perubahan kontroversial yang dibuat, melalui sebuah pidato, menyusul kemenangan mereka di final Fortnite Collegiate Starleague (CSL).

Stuttard dan Diaz tidak terkalahkan sepanjang musim 2018-2019 CSL Fortnite dan membawa momentum itu ke Final LAN di Atlantic City, New Jersey. Setelah menyapu bersih semifinal dan final melawan para pemain dari University of British Columbia untuk meraih gelar dan hadiah senilai 6.000 dollar AS, duo ini naik panggung tidak hanya untuk menerima hadiah tetapi juga mengungkapkan pendapat mereka tentang bagaimana Epic mengatur keseimbangan persaingan dalam Fortnite.

“Kami tidak terlalu menyukai permainan itu lagi. Saya tidak akan berbohong, kita akan melihat apa yang terjadi, “kata Stuttard. “Epic agak serampangan dalam upaya mereka menyeimbangkan semuanya.”

Ketika duo tersebut didesak untuk jawaban yang lebih jelas oleh presenter, Diaz mengungkapkan bahwa mereka telah “memutuskan untuk tak bermain Fortnite mode kompetitif lagi.” tutur Diaz menambahkan.

Duo ini kemudian mengatakan bahwa mereka memperingatkan Epic dalam pidato kemenangan dalam rangka “untuk meningkatkan kualitas gim yang mereka cintai” sebuah pernyataan yang mereka sampaikan dalam wawancara dengan Motherboard usai kemenangan di CSL.

Stuttard menambahkan bahwa dia akan kembali memainkan League of Legends hingga gim baru yang dia suka dirilis.

Kecaman Diaz dan Stuttard atas penanganan Epic terhadap keseimbangan kompetitif Fortnite muncul setelah pengembang merilis unggahan blog kontroversial yang menyatakan mereka tidak akan mengembalikan siphon dan perubahan material atau menghadirkan kembali field of view (FOV), malahan akan terus membuat perubahan gameplay signifikan dalam turnamen.

Pengembang telah lama dikritik oleh komunitas Fortnite atas keputusan ganjil yang tampaknya mengabaikan skena pemula esports, seperti penambahan Infinity Blade yang tak tertandingi tepat sebelum turnamen senilai 1 juta dollar AS, Winter Royale, pada Desember tahun lalu.

Namun, keretakan antara Epic dan komunitas Fortnite yang kompetitif tumbuh menjadi lebih besar setelah sang pengembang memperkenalkan perubahan gameplay kontroversial dalam pembaruan v8.20 dan v8.30 – terkhusus reduksi health, shield, dan penurunan materi dari musuh yang dihilangkan (juga disebut sebagai siphons) dan penguncian FOV vertikal untuk semua pemain.

Perubahan-perubahan tersebut secara khusus melahirkan kampanye ‘Revert!’ atau ‘Kembalikan!’ Di komunitas Fortnite, yang terus-menerus meminta pengembang agar merevisi perubahan yang mereka buat pada permainan. Namun, Epic tetap dengan keputusannya, mengatakan bahwa “ gim [bertujuan] untuk menyediakan permainan menyenangkan yang mencakup semua pemain, dan memberikan setiap orang peluang nyata untuk menang.”

Pengembang beralasan bahwa perubahan kontroversial dibuat dengan melibatkan sebagian besar komunitas Fortnite – yang terdiri dari pemain baru dan mereka yang memainkan gim dengan santai – dalam pikiran mereka, permainan terasa “terlalu intens untuk bisa dinikmati.”

Epic mengatakan bahwa menyikapi kebutuhan pemain mode kompetitif dan gamer kasual dalam komunitas Fortnite adalah “aksi penyeimbangan yang unik.”

“Bagaimanapun, para gamer kasual adalah penonton kompetisi Fortnite, dan keterlibatan mereka adalah kunci pengembangan peluang pemain kompetitif,” kata Epic.

Dengan demikian, komentar Diaz dan Stuttard adalah tanda ketidakpuasan terus-menerus di antara banyak pemain profesional Fortnite. Memiliki komunitas kompetitif yang dikecewakan bukanlah pertanda baik untuk aspirasi tinggi Fortnite kepada esports, terlebih ketika Final Piala Dunia Fortnite yang bernilai 30 juta dollar AS semakin dekat.

“Saya bukan berarti tidak punya rasa terima kasih atau tak suka sama sekali. Saya hanya berkata jujur ​​ketika ditanya perasaan saya tentang gim ini, ”kata Stuttard.